Makasih Mas/pak Adrian,

Bila semua setuju dan sudah mengenal kata "Difabel"
bisa saja kita gunakan kata2 itu. Mungkin harus
disosialisasikan dan dijelaskan ketepatannya. Karena
kadang bila ada istilah baru yang sulit dicerna
seperti kata Difabel itu maka akan terjadi manipulasi
arti dan makna yang sebenarnya.

Ato karena saya lama bekerja dengan anak dan orang
dewasa yang difabel itu sehingga saya selalu terlalu
berhati-hati dalam menerima istilah baru. Bukan apa2
justru karena saya terlalu ingin melindungi mereka2
yang difabel itu.

Tapi kalo istilah ini memang ternyata dilapangan lebih
positif, juga untuk mereka2 yang mempunyai "Handicap"
itu sendiri pasti akan lebih baik.Dan tidak
menyudutkan mereka. Bagi saya penggunakan kata
"Normal" dan "belum/tidak normal" itu sangat relevan
dan ternyata tidak membuat mereka menjadi tersinggung
koq.

Dan mereka umumnya: 
1. malah termotivasi untuk belajar terus agar bisa
mendekati normal.
2. membuat mereka lebih menyadari dan lebih realistis
akan kondisi mereka.
3. Dengan kesadaran itu mereka lebih semangat untuk
mencari jati diri mereka yang sebaiknya.

Saya senang bekerja sama dengan mereka,karena mereka
selalu menggunakan logika mereka, siap membantu, tidak
cepat tersinggung. Itu kalau treatment yang kita
berikan menggunakan metoda yang sangat manusiawi dan
selalu memberikan merekakesempatan untuk berkembang.

Salam dari Ratih



--- adrian aditya <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> saya setuju, dengan adanya pendapat dari mbak/ibu
> Ratih, tetapi sesuatu yang agak mengganjal di
> pikiran
> saya ?? saya kok kurang sepakat dengan adanya
> pendapat
> tentang "normal" dan "tidak normal", apakah dengan
> memiliki semua kelengkapan tubuh disebut dengan
> "normal"??, pakah anak yang tidak lengkap anggota
> tubuhnya tidak disebut dengan "normal", sebagai
> contoh, anak yang tidak memiliki kaki apakah dia
> bisa
> disebut tidak "normal"???
> karena menurut saya fungsi kaki untuk "mobile"
> ketika
> seorang anak tidak mempunyai kaki dan digantikan
> dengan kursi roda sehingga fungsi "mobile"
> terpenuhi,
> apakah masih tidak normal.
> 
> Tiap orang menpunyai potensi untuk menjadi difabel,
> bisa dengan kecelakaan kerja, lalulintas dsb.
> saya tidak ada maksud apa2 karena menurut saya
> difabel
> tidak butuh untuk dikasiani, tetapi mereka lebih
> butuh
> untuk diakui ekstitensinya, keberadaan dan
> difasilitasi. difabel bisa terdriskriminasi sampai
> sekarang karna masyrakat kita juga tidak sensitive
> dan
> cenderung apatis dengan persoalan difabel.
> 
> salam
> Adrian

Kirim email ke