Dikotomi normal dan tidak normal itu hanya labeling..pengertian nya sendiri
menjadi urusan yang berbeda. Kalau yang dimaksud adalah "cacat fisik" sebagai
tidak normal akan berbeda dengan "cacat mental" yang dianggap tidak normal
dalam penangannyanya dan tentu saja empati yanng diperlukan..mungkin yang lebih
tepat adalah anak-anak dengan kebutuhan khusus..
salam,
Istiani
adrian aditya <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
saya setuju, dengan adanya pendapat dari mbak/ibu
Ratih, tetapi sesuatu yang agak mengganjal di pikiran
saya ?? saya kok kurang sepakat dengan adanya pendapat
tentang "normal" dan "tidak normal", apakah dengan
memiliki semua kelengkapan tubuh disebut dengan
"normal"??, pakah anak yang tidak lengkap anggota
tubuhnya tidak disebut dengan "normal", sebagai
contoh, anak yang tidak memiliki kaki apakah dia bisa
disebut tidak "normal"???
karena menurut saya fungsi kaki untuk "mobile" ketika
seorang anak tidak mempunyai kaki dan digantikan
dengan kursi roda sehingga fungsi "mobile" terpenuhi,
apakah masih tidak normal.
Tiap orang menpunyai potensi untuk menjadi difabel,
bisa dengan kecelakaan kerja, lalulintas dsb.
saya tidak ada maksud apa2 karena menurut saya difabel
tidak butuh untuk dikasiani, tetapi mereka lebih butuh
untuk diakui ekstitensinya, keberadaan dan
difasilitasi. difabel bisa terdriskriminasi sampai
sekarang karna masyrakat kita juga tidak sensitive dan
cenderung apatis dengan persoalan difabel.
salam
Adrian