Bung Manneke,

kalau gugatan mengenai memajukan jam sekolah sy akui sbg gugatan yg positif.
tapi ada pula klaim-2 dari milister lain, lalu sy mintakan data tambahan
pendukung.. dan anda sampaikan bahwa sy membungkan gugatan milister lain. Sy
hanya jawab bahwa sy tidak membungkam gugatan siapapun.. bukan hanya anda.
Justru kalau ada gugatan yg lengkap, bisa segera sy tindak-lanjuti bukan?

Terima kasih pak.. sy memang hanya mengklarifikasi tuduhan-2 anda saja..
mengenai 'di-gaji PEMDA', lalu 'membeo'.
Spy pirsawan FPK clear saja.
Bahkan dari awal sy 'terjun' dalam diskusi ini, sy menyanyangkan sikap
pemerintah yg top down. 'Terjun' nya saya dalam diskusi juga tidak
dilatar-belakangi oleh keanggotaan sy di DTKJ.. buktinya, tidak semua mau
terjun kan?

Mengenai kebijakan BODOH;
memang awalnya sy mengira bahwa anda menanggap bahwa masuk jam 6.30 adalah
hal yg sangat luar biasa, sehingga ditolak.
Bahkan dianggap rekor... (rekor adalah suatu yg spektakuler bukan?) sehingga
perlu sy sampaikan bahwa tidak demikian.
dan kota2 lain ternyata sekolah masuk jam 6.30, anak-2 sekolahnya tidak
inferior terhadap Jakarta.

Sy tanggapi.. bahwa bukan kebijakan bodoh.. tapi adalah kebijakan yg layak
dicoba. tapi tidak layak di-paksakan.

Penyebab kemacetan adalah banyak; karena tata ruang, ketergantungan terhadap
mobil pribadi, dll.
Jarak tempuh, adalah indikator transportasi sebagai kajian hilir
(end-of-pipe).
Memang ada kajian-2 statistik mengenai pola perjalanan;
Kalau seseorang menempuh jarak yg jauh utk bekerja, itu wajar.. karena tidak
bisa kita pilih 'pekerjaan' terdekat.
kalau kebetulan kita mendapat pekerjaan yg jauh dari rumah.. tentu jarak yg
ditempuh tidak bisa dikurangi, kecuali ada langkah-2 yg sifatnya permanen;
seperti pindah rumah. Jadi dapat disimpulkan bahwa perjalanan bekerja
(working trips) tidak memimasi jarak.
Lain halnya utk perjalanan lain,.. seperti perjalan utk belanja, ke kantor
pos, ke puskesmas, ke Bank/ATM.. dll.
Perencanaan kota sedemikian rupa berusaha meminimasi jarak perjalanan dengan
membangun fasilitas-2 tsb di tingkat lokal.
Nah.. sekolah adalah salah satu dari faasilitas tsb..
misal:
kalau anda berada di rumah, lalu perlu ke ATM.. maka tentunya akan cari ATM
terdekat.
lain dengan bekerja.. kalau dapat pekerjaan yg lebih bagus, gaji lebih
tinggi.. dan/atau memang dialokasikan ke kantor yg jauh, maka anda tidak
bisa memilih.

kalau ATM terdekat rusak.. maka anda akan menempuh jarak jauh utk ke ATM yg
berfungsi.
Kalau sy tahu anda mengambil uang ke ATM yg lebih jauh dari ATM terdekat
rumah anda.. maka, sy akan simpulkan bahwa ada masalah dengan ATM terdekat.
kalau semua orang mengalami hal yg sama... maka beban penggunaan jalan akan
bertambah secara sia-2.. nah.. ini lah yg disebut orang awam sebagai:
kemacetan.

Sekolah juga demikian... makanya sy selalu diagnosis bahwa ada yg kurang
beres dengan hal ini. Hal ini perlu dibereskan, tapi bukan semata-mata utk
mengurangi kemacetan. sama hal nya.. kalau kita minta ATM terdekat rumah
dibetulkan..


kembali ke jam masuk sekolah:
sy pun jadi berpikir, yg ideal itu masuk sekolah itu jam berapa sih?
kalau ada penelitian yg menunjukkan bahwa yg ideal jam 8.. mengapa kita diam
saja ketika pemerintah memutuskan masuk jam 7?

jangan-2.. masuk jam 7 pun aadalah kebijakan 'yg BODOH' dari sudut pandang
ilmu-2 tertentu.. (psikologi anak misalnya).
yg tentunya diluar kepakaran sy.


bung... jalur sepeda sama saja dengan jalan raya... boleh dipakai juga untuk
jarak pendek.. meskipun bisa dipakai jarak panjang.
jadi.. kalau pun tidak ada yg bersepeda dari Cilandak-ANCOL.. bukan artinya
tidak boleh ada jaringan yg memungkinkan hal tersebut kan? mungkin tetap ada
jalur sepeda dari Cilandak-Ancol.. tapi kalau dipakai Cilandak-BlokM,
Keb.Baru-Menteng, Tebet-Sahari, Menteng-Sahari, Keb.Baru-Lap Banteng/Monas,
Monas-Ancol... kan boleh-2 saja kan?
anda pun boleh menggunakan jalan raya dari anyer sampai panarukan... tapi
kalau tujuannya adalah serang-tegal, kan juga boleh menggunakan jalan raya
tsb.

dan ide ini bukan ide saya.. tapi sy ikut mendorong,...
tujuannya bukan semata-2 mengurangi kemacetan..
tapi mengafirmasi hak atas ruang jalan

tks&salam,
-K-




On Wed, Dec 31, 2008 at 12:07 PM, manneke budiman <[email protected]>wrote:

>   Bung Harya,
>
> Secara umum,sudah ada perubahan sikap dari pihak Anda pada banyak hal yang
> kita diskusikan di bawah mengenai berbagai kelemahan pembuat dan pembuatan
> kebijakan, dan saya hargai itu. Dengan demikian, sorotan saya kali ini
> terfokus pada sikap Anda berkaitan dengan kebijakan jam masuk sekolah.
>
> Berkali-kali juga sudah saya nyatakan bahwa TAK ADA SATU MANUSIA pun di
> milis ini yang mengangap kebijakan memajukan jam masuk sekolah sebagai
> sesuatu yang luar biasa ataupun SPEKTAKULER. Yang ada yaitu kebijakan itu
> dianggap sebagai kebijakan BODOH. Jadi memang jauh dari spektakuler. Saya
> justru heran kenapa Anda demen sekali memaksakan gagasan ini ke mulut
> saya,seolah saya yang bilang bahwa kebijakan ini spektakuler atau luar
> biasa. Yang jadi concern saya adalah korbannya para anak sekolah yang sama
> sekali tak digubris pendapatnya padahal merekalah frontline yang paling
> terkena duluan oleh dampak kebijakan itu.
>
> Soal adanya anak naik angkot 4 kali ke sekolah, bukan saya yang mula-mula
> mengangkatnya kemari. Jadi kalo minta data konkrit, jangan minta ke saya.
> Hal ini muncul berulang kan karena Bung si_andi mempersoalkannya, dengan
> kesimpulan dia bahwa ini pasti ulah ortu yang anaknya mau dimasukkan ke
> sekolah favorit yang jauh dari rumah.
>
> Saya tidak persoalkan rumus matematika itu dalam fungsinya untuk menghitung
> jarak tempuh. yang saya persoalkan adalah kalo rumus itu (dan jarak tempuh)
> dijadikan parameter utama (atau satu-satunya parameter) untuk mengetahui apa
> penyebab kemacetan lalu-lintas. Dan tampaknya, itulah yang terjadi. Bukan
> begitu?
>
> Jalur sepeda yang Anda luncurkan idenya di milis ini terus terang saya tak
> bisa visualisasikan di kepala saya. Di negeri-negeri lain, jalur sepeda ini
> efektif karena sepeda bisa dinaikkan di bis kota dan monorel. Dan jalur
> khusus sepeda hanya ada di jalan-jalan protokol yang menghubungkan rute-rute
> penting kendaraan umum. kalo di jalur sekunder, sepeda dengan otomatis bisa
> jalan tanpa jalur khusus. Di Jakarta, hehehe, gimana orang mau nggeos sepeda
> dari Cilandak sampai Ancol? Justru Anda yang perlu menjelaskan di sini sebab
> ini ide brilyan Anda.
>
> Baik, soal ini saya bisa bersabar sesuai imbauan Anda. Sekali lagi, saya
> apresiasi perubahan sikap dan cara pandang Anda dalam diskusi soal
> lalu-lintas DKI ini, sebagaimana tercermin dalam beberapa posting Anda
> terbaru.
>
> manneke

Kirim email ke