Bung Harya, Yang bilang ada yang aneh, siapa? Nggak ada memang yang aneh. Cuma semakin terlihat saja yang konyol siapa. Dan itu nggak aneh kok. Baguslah Anda tak berbusa-busa, cuma langsung byar pett aja kaya listrik mati, pikiran berhenti bekerja. Justru yang sedang kita perdebatkan adaah BENAR atau TIDAKNYA kebijakan "orang lain" yang Anda dukung itu. Dan sejauh ini Anda tak pernah mampu atau mau menukik langsung ke pokok persoalan: KENAPA anak sekolah? Dari sini kita akan perdebatkan mana yang bener dan mana yang ngawur, oke? Lho? memang saya toh yang menentang dengan memakai metabolisme anak? Kacau banget Anda ini, Bung. Saya sih sejak awal konsisten: kalo mau beresin kemacetan lalin, buat kebijakan yang betul tentang lalin. Jangan buat kebijakan tentang jam sekolah. Ini edan namanya! Diskusi lalu berkembang jadi urusan metabolisme, sekolah favorit, dll karena ada partisipan yang memasukkan unsur-unsur itu, tapi BUKAN saya, Bung! Jangan keluarkan ilmu ngarang Anda di depan saya, tak berguna. Oke? Dan gak usahlah bolak-balik suruh orang baca atau menunjukkan literatur. Anda sebagai PENDUKUNG kebijakan bego dari Pemda ini punya nggak literatur yang mengatakan bahwa memajukan jam masuk sekolah dapat mengurangi kemacetan lalin? Tunjukkan, Bung, jangan ngobros doang! Soal survey pendapat masyarakat jika anak masuk jam 7, 8, 9 dst, ini kan Anda yang ngimpi, bukan saya? Jadi, kita nggak usahlah berandai-andai bahwa kalo masyarakat protes terhadap masuksekolah jam 7 maka berarti mereka nggak ilmiah. Sombong banget, coy! Nggak usah jauh-jauh, lha Anda sendiri sejauh ini juga kaga ilmiah kok, meski udah bawa-bawa rumus segala. Dan jangan menyesatkan orang dengan menyamakan protes masyarakat soal kebijakan masuk sekolah ini dengan penolakan mereka atas seat-belt dst dll dsb. Gak nyambung, Om! kembali saja ke fokus kita: ini isu kemacetan lalin yang mau diatasi dengan mengubah jam masuk sekolah. Nah, sekarang siapa yang nggak ILMIAH? Bukankah jawabnya sudah jelas? Masih kaga ngerasa toh? Kalo udah masuk dalam lngkar kekuasaan, jangan takabur. Langsung maen ngomong masyarakat nggak ilmiah, kaya situ lebih superior aja daripada semua orang? Lihat jawaban-jawaban Anda untuk Rini: keliatan banget gaya pejabatisme-nya. Yang dibilang Rini salah lah, yang Rini nggak mampu nangkep maksud Anda lah. Padahal, untuk memahami makna "berpikir literal" saja Anda setengah mati, meski Pak Emir dan saya udah bantu kasih ilustrasi. Dan yang salah Rini? Oh my God! Oooo, jadi jalur sepeda yang Anda impikan itu utamanya dari jalan-jalan pemukiman ke pusat-pusat feeder, gitu toh? Jadi tetep sepeda tak akan ada jalur khususnya di jalan-jalan protokol ya? Hahahahahahahahaha, sampe nggak bisa berkata-kata saya. Terlalu lucu! Anda bilang "sekarang ini BANYAK yang dari Depok-Sudirman bersepeda:? HAH? Ada survey-nyakah sampe tahu bahwa ada banyak dan tahu bahwa mereka dari Depok? Atau lagi-lagi ini igauan Anda, Bung? Terakhir, Anda berkali-kali bilang kebijakan ubah jam masuk ini BARU UJICOBA. Betulkah ini? Kok Wagub dan Gub-nya sendiri tak pernah bilang ini baru diujicobakan? Wong sudah ditetapkan kok, apanya yang ujicoba, Mas? Saya tanya sekali lagi ya (sebelumnya sudah tanya tapi gak dijawab alias dicuekin), kalo betul ini baru ujicoba, berapa lama masa ujicobanya? Ada batas waktunya? Jangan ngimpi lagi, Bung, kasih saya jawaban konrkti dan faktual. tks dan salam juga, manneke
--- On Sun, 1/4/09, Harya Setyaka <[email protected]> wrote: From: Harya Setyaka <[email protected]> Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Kalau PNS masuk jam 06.30 wib To: [email protected] Received: Sunday, January 4, 2009, 11:00 PM Bung Manneke, Sy membela pendapat sy.. dan tentunya sy akui hak anda utk berpendapat berbeda. tidak ada yg aneh dengan sikap itu kan? Mungkin anda berbusa-busa. .. sy sih tidak. terus terang sy agak keberatan dengan nada negatif dari Anda, terutama mengkait-2kan opini sy dengan keanggotaan sy di DTKJ. tapi itu hak anda yg sy hormati. Sy hanya mengundang anda untuk lebih positif. kalau undangan ditolak itu resiko sy sbg pengundang. Sy kan boleh juga menyetujui kebijakan buatan orang lain.. kalau memang sy nilai baik/benar. Itulah Bung.. sy undang anda utk berdiskusi tanpa mempermaslaahkan keanggotaan kita di organisasi masing-2. ini kan forum mimbar bebas.. Kewenangan DTKJ tidak kuat dalam kebijakan-2 memajukan jam sekolah, kecuali diminta oleh DisHub. Rekayasa lalu-lintas/ traffic engineering juga bukan kewenangan DTKJ. DTKJ lebih berperan dalam hal angkutan umum, seperti tarif misalnya. Analogi ATM hanya mencoba menjelaskan konsep 'wilayah layanan'... Masing-2 Sekolah punya wilayah layanan.. ketika suatu sekolah melayani lebih dari 'wilayah layanan' nya.. maka tentunya ada yg tidak beres atau tidak sesuai rencana. Iya.. yg nulis rekor dunia bukan anda.. yg nulis memang kelewat bombastis dan tidak merujuk realita. karena masuk jam 6.30 sudah dilakukan di kota-2 lain. itu yg sy garis-bawahi. Betul Bung.. tgl 5 januari, tepatnya, di-terapkan oleh pemerintah. Sy tidak setuju sikap pemaksaan pemerintah. Mengenai masuk jam 8: gini Pak Manneke, masuk jam 6.30 menggunakan argumen bisa menurunkan kemacetan. Lalu ditentang dengan alasan tidak sesuai dengan metabolisme anak dll... nah.. sy bertanya.. kalau sesuai dengan metabolisme anak dll.. yg cocok masuk sekolah jam berapa? jam 8 kah? Siapa tahu anda punya literatur mengnai hal itu.. atau ada milliser lain yg bisa berkontribusi positif. Sy tidak setuju dengan pandangan anda; bahwa masuk jam 7 sudah optimal karena tidak diprotes masyarakat.. protes dari masyarakat bukan indikator tunggal Bung.. ini tidak ilmiah. bahkan bisa menyesatkan. contoh: warga Aceh sempat menolak penggunaan helm... warga juga awalnya ada yg protes peraturan penggunaan seat-belt. warga banyak yg protes soal kenaikan tarif tol.. dsb.. lalu apakah artinya; bila 1-2 bulan mendatang tidak ada protes dari warga mengenai masuk jam 6.30 artinya sudah tidak bodoh kebijkan tersebut? Makanya, ini pentingnya uji coba.. Utk commuters jarak jauh, memang lebih utama adlah pengembangan angkutan umum massal. UKI-Cawang - Gn. Sahari bisa naik Busway.. tapi kan si penumpang rumahnya tidak persis di UKI Cawang misalnya.. nah, sepeda itu bisa jadi pengumpang/feeder. naik sepeda dari rumah lalu parkir di shelter busway terdekat. Jarak optimal bersepeda itu s/d 3 KM... lumayan.. daripada ke ujung gang saja harus ngojek motor. Tapi kalau anda sensitif terhadap perkembangan 2 tahun kebelakang.. banyak juga yg dari Depok-Sudirman bersepeda. Sy tidak ngiming-2-i apa-2 bung.. cuma mengundang berpartisipasi utk jalur sepeda ini. Kalau anda bisa menambahkan. . supaya lebih komprehensif. . sy tentunya sangat senang. Namanya bikin rencana mulai dari konsep dll.. dan butuh waktu.. anda juga bikin karya ilmiah juga ga sim-sala-bim jadi toh? tks dan salam, -K-
