Bung Manneke,

Sy membela pendapat sy.. dan tentunya sy akui hak anda utk berpendapat
berbeda.
tidak ada yg aneh dengan sikap itu kan?
Mungkin anda berbusa-busa... sy sih tidak.
terus terang sy agak keberatan dengan nada negatif dari Anda, terutama
mengkait-2kan opini sy dengan keanggotaan sy di DTKJ. tapi itu hak anda yg
sy hormati. Sy hanya mengundang anda untuk lebih positif. kalau undangan
ditolak itu resiko sy sbg pengundang.

Sy kan boleh juga menyetujui kebijakan buatan orang lain.. kalau memang sy
nilai baik/benar.

Itulah Bung.. sy undang anda utk berdiskusi tanpa mempermaslaahkan
keanggotaan kita di organisasi masing-2.
ini kan forum mimbar bebas..

Kewenangan DTKJ tidak kuat dalam kebijakan-2 memajukan jam sekolah, kecuali
diminta oleh DisHub.
Rekayasa lalu-lintas/traffic engineering juga bukan kewenangan DTKJ.
DTKJ lebih berperan dalam hal angkutan umum, seperti tarif misalnya.

Analogi ATM hanya mencoba menjelaskan konsep 'wilayah layanan'...
Masing-2 Sekolah punya wilayah layanan.. ketika suatu sekolah melayani lebih
dari 'wilayah layanan' nya..
maka tentunya ada yg tidak beres atau tidak sesuai rencana.

Iya.. yg nulis rekor dunia bukan anda.. yg nulis memang kelewat bombastis
dan tidak merujuk realita.
karena masuk jam 6.30 sudah dilakukan di kota-2 lain. itu yg sy
garis-bawahi.


Betul Bung.. tgl 5 januari, tepatnya, di-terapkan oleh pemerintah.
Sy tidak setuju sikap pemaksaan pemerintah.

Mengenai masuk jam 8: gini Pak Manneke, masuk jam 6.30 menggunakan argumen
bisa menurunkan kemacetan. Lalu ditentang dengan alasan tidak sesuai dengan
metabolisme anak dll...
nah.. sy bertanya.. kalau sesuai dengan metabolisme anak dll.. yg cocok
masuk sekolah jam berapa? jam 8 kah?
Siapa tahu anda punya literatur mengnai hal itu.. atau ada milliser lain yg
bisa berkontribusi positif.

Sy tidak setuju dengan pandangan anda; bahwa masuk jam 7 sudah optimal
karena tidak diprotes masyarakat..
protes dari masyarakat bukan indikator tunggal Bung.. ini tidak ilmiah.
bahkan bisa menyesatkan.
contoh: warga Aceh sempat menolak penggunaan helm... warga juga awalnya ada
yg protes peraturan penggunaan seat-belt.
warga banyak yg protes soal kenaikan tarif tol.. dsb..

lalu apakah artinya; bila 1-2 bulan mendatang tidak ada protes dari warga
mengenai masuk jam 6.30 artinya sudah tidak bodoh kebijkan tersebut?

Makanya, ini pentingnya uji coba..

Utk commuters jarak jauh, memang lebih utama adlah pengembangan angkutan
umum massal.
UKI-Cawang - Gn. Sahari bisa naik Busway..
tapi kan si penumpang rumahnya tidak persis di UKI Cawang misalnya.. nah,
sepeda itu bisa jadi pengumpang/feeder.
naik sepeda dari rumah lalu parkir di shelter busway terdekat.
Jarak optimal bersepeda itu s/d 3 KM... lumayan.. daripada ke ujung gang
saja harus ngojek motor.
Tapi kalau anda sensitif terhadap perkembangan 2 tahun kebelakang.. banyak
juga yg dari Depok-Sudirman bersepeda.
Sy tidak ngiming-2-i apa-2 bung.. cuma mengundang berpartisipasi utk jalur
sepeda ini.
Kalau anda bisa menambahkan.. supaya lebih komprehensif.. sy tentunya sangat
senang.
Namanya bikin rencana mulai dari konsep dll.. dan butuh waktu..
anda juga bikin karya ilmiah juga ga sim-sala-bim jadi toh?

tks dan salam,
-K-


2009/1/3 manneke budiman <[email protected]>

>   Lho? Kalo gugatannya Anda anggap positif, ngapain kita berbusa-busa
> bedebat dari berminggu-minggu yang lalu? Bukankah Anda yang mati-matian
> mempertahankan kebijakan itu, meski ngakunya bukan Anda yang ikut bikin?
> Jadi posisi Anda ini sebetulnya di mana sih?
> �
> Yang jelas, dari DTKJ yang terjun dalam diskusi ini dan membela kebijakan
> Pemda itu cuma Anda seorang, Bung Harya. Kalau yang lain diem, maka tentu
> ada apa-apanya di balik kediaman itu. Bisa jadi merekalah justru yang
> memberikan dissenting opinion, bukan Anda. Kalo mereka menganggap secara
> prinsip kebijakan itu benar, maka mereka pasti akan dengan antusias bicara
> seperti Anda di sini.
> �
> Yang nulis soal "rekor dunia" bukan saya. Sila periksa lagi dengan cermat
> awal thread berjudul "rekor dunia". Di mata saya sih, miliser yang menulis
> posting pertama dengan judul itu berniat mengejek Pemda DKI dengan memakai
> cara yang bombastis, bair nyelekit. Nyatanya, banyak yang tersengat. Hehehe.
> �
> Bung, pemberlakuan tanggal 1Januari 2009 itu penerapan, bukan ujicoba. Kalo
> ujicoba, ada timeframe yang jelas berapa lama dan sampai kapan. Anda yakin
> nih kebijakan prekethek itu baru taraf ujicoba?
> �
> Analogi ATM yang Anda pakai untuk dibandingkan dengan pemilihan sekolah
> jelas melenceng amat sangat terlalu jauh sekali banget. Kalo betul pemda
> sadara ada masalah kesenjangan dalam mutu sekolah, maka ini justru tambahan
> alasan untuk tidak secara serampangan memajukan jam masuk sekolah se-wilayah
> DKI. Kalo mereka mawas diri, tentu mereka akan perbaiki dulu kondisi
> sekolah-sekolah bermasalah, baru nantinya bikin kebijakan jam sekolah. Yang
> terjadi adalah jam sekolah dimajukan bukan karena ada kaitan dengan
> perbaikan mutu pendidikan atau sekolahj, melainkan dipakai sebagai cara
> mengurangi kemacetan--satu hal yang sedari awal Anda dengan sengaja menutup
> mata dan tak berani akui di sini.
> �
> Emang ada penelitian yang bilang masuk sekolah ideal adalah jam 8? Mana?
> kata siapa? Atau cuma KALAU, JIKA dan SEANDAINYA? Kebijakan masuk sekolah
> jam 7 tidak ada yang protes, berarti ya jam itu diterima secara umum oleh
> semua pihak. Justru ketika jam masuk diganti jadi lebih pagi, maka protes
> berhamburan. kesimpulannya, jam amsuk jam 7 pagi tidak diprotes bukan karena
> itu atura bodohj, tapi itu aturan yang dianggap sudah pas. Jam 6.30 diprotes
> karena itu aturan BODOH. Jelas kan? Mungkin nanti Anda dan lembaga Anda yang
> mesti bikin penelitian, liat apa reaksi orang jika diusulkan masuk jam 8.
> OK?
> �
> Tentu jalur sepeda bebas mau dimanfaatkan cuma semeter atau sampai 1 km.
> Persoalannya, jumlah commuters di DKI itu besar dan mereka bisa jadi adalah
> pengguna jalan terbesar. Jadi, kebijakan sepeda yang Anda gagas itu
> sasaranya siapa? Kalo cuma orang yang peri dari satu RT ke RT lain, ya tak
> ada dampaknya buat mengatasi kemacetan. kalo sasarannya commuters, ini baru
> efektif. Tapi lagi-lagi, apa sepeda bisa membawa mereka dari UKI Cawang ke
> Gunung Sahari? jelas gak, Bung? Jadi, jangan dijawab lagi ya dengan jawaban
> orang boleh naik sepeda dari Blok A ke Wr. Buncit. Ini ngawur! Kalo mau
> bicara hak pengendara sepeda, yang komprehensif, jangan iming-iming sesuatu
> yang selintas tampak menggiurkan tapi dalam wujudnya kaga ada gunanya.

Kirim email ke