Ada banget.. ya itu.. keputusan zoning nya Desa Euclid di-bawa ke pengadilan oleh PT Ambler si Developer.. bahkan sampai Supreme Court (MA) .. tahun 1926 .. saat itu kita SUmpah Pemuda saja belum.. baru reda pemberontakan ISDV, cikal-bakal PKI..
pokok perkara adalah: apakah Zoning melanggar hak perorangan atas tanah (property) yg dilindungi konstitusi? Ambler keberatan karena value tanahnya turun karena zoning.. dan minta kompensasi (ganti rugi).. tapi 'use-value' nya tetap ada... Ambler tetap bisa menikmati manfaat dari sebidang tanah tsb.. meskipun bukan kenikmatan finansial .. sehingga tidak dianggap 'penggusuran'..tidak perlu ganti-rugi. Putusan MA: Zoning itu sah dan konstitusional. Ambler secara tidak langsung mempertanyakan seberapa luas kewenangan City.. apakah cukup luas sehingga bisa mempengaruhi nilai finansial dari sebidang tanah. Jawabnya bisa. Salam, -K- 2010/4/25 Bambang Tata Samiadji <[email protected]> > > > Ysh Pak Eka,..sorry..kalau yurisprudensi macam yang Anda sebutkan (soal > penjual kacang di kebon binatang di Luar Negeri),.... apakah relevan? > > Saya pikir, apakah perlu yurisprudensi bagi kebijakan publik? Yang saya > tahu, yurisprudensi itu dalil hukum (dari kasus) yang telah memperoleh hukum > tetap (melalui kasasi hingga ditetapkan oleh MA). Apakah ada kasus hukum > Kebijakan Publik yang dibawa ke pengadilan, banding, hingga putusan MA? > > Thanks. CU. BTS. > > --- Pada *Ming, 25/4/10, ffekadj <[email protected]>* menulis: > > > Dari: ffekadj <[email protected]> > Judul: [referensi] Dillon's Rule > Kepada: [email protected] > Tanggal: Minggu, 25 April, 2010, 11:32 AM > > > > Referensiers, melanjutkan usaha Harya, saya temukan satu 'yurisprudensi' > dari bukunya Phillips, yaitu tentang batas-batas kewenangan Pemkot, > disebut Iowa State Judge John F. Dillon. Dalam yurisprudensi ini > disebutkan Pemkot tidak bisa begitu saja mengizinkan beroperasinya stand > (warung) jualan kacang di dalam kebun binatang tanpa ditetapkan > sebelumnya secara legislatif. > > "A city cannot operate a peanut stand at the city zoo without first > getting the state legislature to pass an enabling law, unless, > perchance, the city's charter or some proviously enacted law > unmistakably covers the sale of peanuts". > > Salam. > > -ekadj > > --- In refere...@yahoogrou > ps.com<http://id.mc771.mail.yahoo.com/mc/compose?to=referensi%40yahoogroups.com>, > Harya Setyaka <harya.setyaka@ ...> > > wrote: > > > > Kalau di profesi ekonomi dan bisnis, tentu juga akan mempelajari > kasus-2 > > hukum yg berkaitan dengan sengketa bisnis.. misal kasus-2 anti-trust.. > yg > > paling monumental akhir-2 ini Microsoft vs. Netscape... > > Aksi-2 merger dan akuisisi juga tidak lepas dari masalah hukum.. > > FYI, Departemen Kehakiman USA mempekerjakan ahli-2 ekonomi untuk > mempelajari > > anti-trust dan mengawasi merger dan akuisisi untuk menghindari > terjadinya > > monopoli dan cartel yg merugikan konsumen/perekonomi an secara umum.. > > > > > Ya.. memang intinya kasus-2 tsb kalau tidak dipelajari akan menjadi > > mubazir.. > > semoga dari pembelajaran atas kasus-2 tsb terjadi perbaikan praksis. > > > > Saya malah kepikiran.. apa sih yg memisahkan kita dengan masyarakat-2 > yg > > mampu menyelesaikan konflik tanpa bentrok? > > Kalau ada arsitek/Planner Indonesia yg berpraktek di luar negeri, > apakah > > lantas jadi bentrok? > > Sebaliknya, kalau planner dari luar negeri praktek di Indonesia, > lantas > > jamin bebas bentrok? > > > > > > Salam, > > -K- > > > > 2010/4/20 Djarot Purbadi dpurb...@... > > > > > > > > > > > Bagi saya, kasus merupakan titik penting untuk memperbaiki banyak > hal. > > > Kasus mengandung pengetahuan untuk memperkaya-memperba iki ilmu dan > > praktek > > > profesi kita. Bagi yang berperkara ya mereka akan terus ada dalam > lingkaran > > > itu, tetapi bagi kita yang tidak berperkara secara langsung, saya > kira perlu > > > menjadi lebih cerdas karena belajar dari perkara-perkara yang > muncul. > > > > > > Jika kita perhatikan, kajian kasus-kasus sejauh saya tahu banyak > dilakukan > > > di kalangan ekonomi. Teman saya bahkan menggunakan studi kasus > sebagai > > > metoda belajar untuk mata kuliah tertentu. Orang ingin melakukan > > > re-engineering perusahaannya ia belajar dari beberapa "kasus > monumental" > > > yang diduga cocok untuk dipelajari. Nah, apakah kita akan melewatkan > begitu > > > saja setiap kasus konflik yang terkait dengan tata ruang, dan di > kemudian > > > hari kita menumbuk perkara yang secara substansial sama berpikir > mulai dari > > > nol ??? Menurut teman saya, dia bahkan pernah membeli "kasus-kasus" > otentik > > > untuk mata kuliahnya itu dari "perusahaan" yang memang menuliskan > dan > > > menjualnya !!! Itu terjadi di fakultas ekonomi, misalnya kasus > perusahaan > > > Sony ketika menghadapi sesuatu ide pengembangan atau apalah, saya > lupa. > > > > > > > > > Salam, > > > > > > Djarot Purbadi > > > >

